Peluang Usaha

Cara Berkebun Pada Lahan Terbatas

on Sunday, November 7, 2010



Saat ini sebagian besar sayuran yang kita konsumsi masih mengandalkan pupuk buatan atau yang sering dikenal dengan pupuk kimia, walupun sudah ada yang menggunakan pupuk organik. Hanya saja secara harga, sayuran yang berasal dari pupuk organik relatif lebih mahal. Sementara itu, tuntutan terhadap konsumsi sayuran organik semakin meningkat karena memang dilihat dari segi kesehatan lebih baik. Bagaimana kita mencoba menyikapi hal tersebut?
Mungkin sempat sekilas terbayang dalam benak kita, mengapa kita tidak mencoba menanam sendiri saja sayur-sayuran tersebut? Yah, lagi-lagi kita dihadapkan pada cara ketidaktahuan, lahan yang sempit atau rasa kemalasan. Jangan khawatir, seperti kata orang bijak, asal ada kemauan Insya Allah bisa.
Ada beberapa keuntungan ketika kita mampu mengusahakan sayuran dari lahan sendiri. Pertama, kita bisa melakukan kontrol atas tanaman itu sendiri. Mengapa ini penting? Ya, kalau kita beli di pasar contohnya kangkung kadang kita langsung menjatuhkan pilihan pada kangkung yang hijau subur dan segar. Padahal kesegaran kangkung tersebut bisa berasal dari pupuk kimia. Kedua, secara ekonomis juga jauh lebih murah. Ingat, beberapa waktu yang lalu harga cabe di pasar sempat membumbung tinggi. Dengan demikian, kalau diusahakan sendiri, maka harga dianggap konstan. Ketiga, dengan berkebun bisa memberikan rasa segar dan fresh. Selain mendukung gerakan penghijauan, sekaligus membuat udara lebih segar. Coba saja pagi hari sebelum matahari terbit, kita tengok kebun yang hijau serasa kesegaran langsung merasuk ke dalam seluruh badan. Keempat, berkebun merupakan seni tersendiri karena bisa saja berbeda untuk satu orang dengan yang lainnya. Kelima, dengan berkebun juga berarti memiliki lemari es alami yakni dengan cara memetiknya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan saat itu. Keenam, dengan berkebun berarti memanfaatkan lahan dan waktu yang luang.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana mau berkebun, lha wong lahannya saja sangat terbatas. Tidak masalah, coba cek apakah masih ada lahan tersisa di belakang atau samping rumah? Kalau masih entah seberapa besarnya, berarti masih ada peluang. Nah bagaimana kalau sudah tidak ada sama sekali? Masih ada peluang juga. Kita bisa kok berkebun dengan cara menanam sayuran tersebut di pot.
Seperti yang sudah disinggung di awal, lahan terbatas ini dibagi dalam dua kelompok. Pertama lahan terbatas dengan media tanah. Untuk itu, yang perlu dilakukan gemburkan dulu tanah tersebut dengan cangkul atapun dengan sabit atau pecok. Setelah itu campurkan tanah yang sudah digemburkan tersebut dengan kompos ataupun humus yang dapat dibeli di pasar. Kalau di Semarang banyak tempatnya, salah satunya di Pasar Mbulu Jalan Sugiopranoto. Sebungkus kompos sapi atau kambing dijual Rp2.000,00. Setelah lahan siap, benih siap ditaburkan. Misalnya kangkung, kacang panjang, sawi dan lain-lain. Jangan lupa, saat tanaman tumbuh setinggi kurang lebih 10 cm, perlu dilakukan penyiangan terhadap gulmanya sekaligus diberikan pemupukan kembali dengan kompos. Dalam waktu yang tidak terlalu lama (tergantung jenis tanaman) siap dipanen. Kalau tanaman seperti kangkung, bisa dipanen sampai beberapa kali, tetapi kalau sejenis sawi maka hanya sekali panen setelah itu harus menanam kembali dari awal.
Dengan media pot, hampir sama caranya. Hanya saja, lahan yang dipakai memang lebih terbatas lagi. Masukkan kompos dan humus ke dalam pot, lalu tanamlah sayuran tersebut, misalnya cabe. Perlakuan berikutnya juga sama, nantinya lakukan pemupukan kembali dengan kompos dan juga penyiangan terhadap gulma. Oh iya, untuk bibit tanaman bisa dibeli di toko-toko pertanian. Selamat mencoba dan selamat berkebun.

0 comments:

Post a Comment