Peluang Usaha

Budidaya Sapi Sebagai Jembatan Masa Depan?

on Sunday, October 10, 2010


Masih terngiang dalam ingatan saya perkataan dari teman beberapa waktu yang lalu, kok sarjana memelihara sapi sih? Ngapain harus kuliah di fakultas ekonomi, kalau akhirnya berkutat dengan sapi? Apa gak sayang? Memang bisa kaya dari peternakan sapi? Pertanyaan yang menohok dan mendasar, di luar konteks sebuah canda atau nada serius. Justru dengan pertanyaan tadi, semakin memotivasi saya untuk bisa mewujudkan impian tersebut, walaupun saya sadar dan yakin, tak gampang memang mewujudkannya. Namun kita tak boleh berhenti dan patah arang begitu saja. Lha wong anjing menggonggong, kafilah berlalu...he..he... Ya sudahlah, yang penting kita berusaha dulu dengan target yang terukur, hasilnya diserahkan sepenuhnya sama yang di atas.
Sebelum kita fokus mewujudkan impian budidaya sapi yang sukses, ada beberapa hal yang perlu kita cermati sebelumnya. Mungkin kita belum sampai ke hal-hal yang sifatnya teknis, namun melihat dari sisi globalnya (istilah orang baratnya sih helikopter view).
Kalau kita merunut dari sisi sejarah, apalagi di Indonesia, kebanyakan peternak sapi masih belum menguntungkan. Hal ini terkait dengan kultur kita bahwa beternak sapi adalah tabungan kalau nantinya dibutuhkan sewaktu-waktu bisa dijual, daripada nanti harus senggol kanan-senggol kiri untuk mencari hutangan. Bila dihubungkan dengan teori investasi, maka sebenarnya tabungan bukan termasuk dalam kerangka untuk mencari keuntungan mengingat kecilnya return yang didapat. Oleh karenanya, bila beternak sapi hanya untuk tujuan itu, rasanya kita juga masih belum bisa beranjak dari pandangan ini.
Sebagian besar masyarakat peternak sapi di Indonesia, mengusahakan ternak sapi hanya untuk sambilan. Pada umumnya, pekerjaan pokoknya adalah petani. Konsekwensinya, skala usaha yang dilakukan juga kecil, biasanya hanya berkisar 1-4 ekor. Hal ini bisa dimaklumi karena mereka mencari pakan sekaligus saat pergi ke sawah. Ibarat pepatah, yah sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.
Di luar dua konteks tersebut, hal yang sangat berpengaruh adalah manajemen budidaya itu sendiri karena masih dilakukan secara konvensional. Manajemen pakan salah satunya, hanya menggantungkan pada pakan hijuan. Itu pun belum tentu tercukupi semuanya. Bahkan pada umumnya hanya mengandalkan jerami kering yang dari sisi kandungan gizi kurang mencukupi untuk pertumbuhan ternak itu sendiri. Memang dalam budi daya sapi, 60% ditentukan oleh pakan. Oleh karena itu, kita harus mampu mengusahakan lahan hijauan yang mencukupi (sekiranya memungkinkan) atau bisa juga membeli di pasaran dengan konsekwensi cost of fund nya jauh lebih besar. Pakan hijauan yang diusahakan bisa dalam bentuk rumput kolonjono, rumput gajahan, tebon (batang jagung) maupun king grass (seratnya lebih kasar). Pakan hijauan saja belum cukup, karena kita masih harus mengusahakannya dengan pakan tambahan dalam bentuk konsentrat, baik yang beli dari pabrikan maupun dari rumahan. Yang dari pabrikan ada beberapa yang bagus, tetapi tak kalah baiknya kita mengambil dari sisa industri rumah tangga dalam bentuk ampas tahu.
Setelah mencoba flash back budi daya betenak sapi kita pada masa tersebut yang sebagian besar memang diusahakan oleh orang tua kita, bapak dan kakek kita, saya menjadi semakin termotivasi untuk nyemplung ke dalamnya. Masih terngiang juga dalam pikiran ini, perkataan Pak Siswono Yudo Husodo (beliau memiliki beberapa usaha peternakan sapi yang cukup besar), peternak sapi kita jangan hanya memelihara sapi dalam skala kecil di bawah 10 ekor. Bila kita ingin mendapatkan imbalan secara ekonomis, maka peliharalah dalam jumlah skala cukup besar dengan tetap mengedepankan prinsip manajemen modern. Kita bisa mengaca ke Australia, yang memiliki jumlah sapi lebih besar daripada jumlah penduduknya.
Peluang budi daya sapi juga masih cukup bagus, mengingat sampai dengan saat ini kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap  daging sapi cenderung meningkat. Sementara itu, dari jumlah sapi masih belum bisa tercukupi oleh Indonesia sendiri yang konsekwensinya masih harus impor kurang lebih 500.000 ekor per tahun. Sungguh ironis memang, bangsa dan negara yang bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan ini masih harus mengais-ngais sapi ke negeri orang. Mungkin kita masih mafhum, seandainya yang kita impor adalah sapi bakalan.
Oleh karena itu, saatnya anak muda bergerak untuk mewujudkan peternakan sapi yang modern. Tak pandang bulu, lulusan SD, SMP, SMA bahkan sarjana tidak ada masalah. Tak perlu lagi ada keraguan seorang sarjana, misalnya yang harus berkotor-kotor ria bergelut dengan sapi.




4 comments:

Anonymous said...

harus terus ditumbuhkan minat sarjana untuk kembali ke desa.

Beta said...

Suburnya tanaman jagung, cocok sekali musim hujan begini beternak sapi, pakan tersedia melimpah.

SARENGAT AMIN said...

maju terus pantang mundur, orang jawa bilang hewan ternak itu sama dengan raja kaya........smoga sukses jadi orang kaya

sinta said...

Assalamualaikum wrb,perkenalkan saya Sinta dari Padang saya pengusaha properti,saya ngin berbagi pengalaman kepada teman2 semua,dulu saya hanya penjual jamu keliling,hidup susah penghasilanpun hanya bisa untuk makan,saya punya anak tiga suami tinggalkan saya pada saat kelahiran anak saya yang ke 3.putus asa sempat terlintas dipikiran saya,tapi saya harus berjuang demi anak2 saya,tidak sengaja saya buka internet dan saya lihat no ki agenk bondowoso,saya coba telpon beliau,saya dikasi solusi tapi saya ragu untuk menjalankannya tapi saya coba beranikan diri mengikuti saran beliau syukur alhamdulillah sekarang saya bisa sukses seperti ini usaha properti saya terbilang sukses,sekarang semua anak2 saya sekolah dan sudah ada yang sarjana,terimah kasih saya ucapkan pada ki agenk bondowoso berkat anda saya bisa seperti ini,khusus untuk room ini terima kasih karna saya bisa berbagi pengalaman,untuk teman2 yang mau seperti saya atau yang sedang dalam kesusahan khususnya yang terlilit hutang banyak silahkan hub ki agenk bondowoso di nmr 082348727567 insya Allah dikasi solusi,ini pengalaman saya nyata dan tidak ada karangan apapun sumpah atas nama Allah,salam persaudaraan,WAssalam

Post a Comment