Peluang Usaha

Mantapkan Hati Untuk Berwirausaha

on Friday, November 19, 2010


Menurut Ciputra, mahasiswa dapat dibagi dalam 3 kelompok. Pertama, mahasiswa pandai yang memiliki Indeks Prestasi (IP) bagus. Mereka rata-rata menjadi dosen dan ilmuwan setelah lulus kuliah. Kelompok kedua, mahasiswa dengan IP menengah, rata-rata memilih menjadi profesional dengan bekerja di suatu perusahaan. Sementara mahasiswa yang memiliki IP jelek dan sering blos kuliah, biasanya menjadi pengusaha yang nantinya malah mempekerjakan kelompok mahasiswa yang kedua bahkan mungkin yang pertama. Mereka memilih menjadi pengusaha dan kadang tidak lulus kuliah karena memang tidak ada pilihan lain. Biasanya untuk masuk ke perusahaan atau mendaftar PNS, nilai minimal 2,75.

Namun dalam hal ini, saya ingin mengatakan bahwa sesungguhnya menjadi pengusaha adalah pilihan sejak awal, tanpa dipengaruhi oleh nilai. Ibarat sebuah perjalanan, kalau kita sudah tahu titik akhirnya maka kita bisa lebih fokus. Dengan menjadi wirausaha, sesungguhnya ada dua nilai besar yang terkandung di dalamnya. Pertama, bagi diri sendiri. Kita menjadi lebih bebas mengatur waktu, tanpa diperintah oleh orang lain. Kita bebas menentukan dan berinovasi atas bidang kita tanpa terkotak-kotak atau dibatasi oleh aturan serta bebas mau di bawa ke mana usaha kita tersebut. Di sisi lain, ada nilai kemanfaatan bagi orang lain, bagi masyarakat sekitar, bagi sektor usaha riil, pemberdayaan masyarakat yang tentunya juga memberikan kontribusi terhadap Produk Domistik Bruto dan negara.
Oleh karena itu, ayo kita sama-sama kembangkan terus kemampuan wirausaha kita, jalin persahabatan dan siap melangkah. Jangan ragu.

Enam Cara Membangun Citra Diri Yang Kuat

on Thursday, November 18, 2010


Perlu kita ketahui, bahwa citra diri merupakan produk dari pikiran-pikiran kita, oleh karena itu implikasinya adalah kita harus bisa mengatur input pada pikiran kita sehingga output dapat kita kontrol sesuai dengan yang kita harapkan. Apa yang perlu kita lakukan? Ada enam cara yang dapat kita lakukan untuk membangun citra diri yang kuat.
1.         Kita harus menyadari dan mengetahui tentang keunikan kita di dunia ini. Tidak ada satu pun orang yang sama persis dengan diri kita ini. Kita benar-benar diciptkan spesial oleh Tuhan bahkan kita menjadi khalifah Tuhan di muka bumi ini. Manfaatkan benar-benar apa yang menjadi kelebihan kita, tidak hanya untuk diri kita sendiri namun untuk tujuan masyarakat yang lebih luas. Usahakanlah selalu membawa diri kita ke manapun pergi, dengan martabat yang layak kita dapatkan.
2.         Yakin bahwa kita mampu melakukan apa yang ingin kita lakukan. “You can if you think can”, begitu kata Norman Vincent Peale. Rutinitas kadang mematikan cara kita berpikir positif dan inovatif karena kita terbelenggu olehnya. Padahal kehidupan itu sendiri memberikan peluang dan kesempatan yang tidak terbatas. Diri kita sendirilah yang kadang membuatnya kerdil. Cobalah sekali-kali tengok dunia di luar kita, begitu banyak orang hebat yang muncul dengan bidangnya masing-masing. Tanyakan pada diri sendiri, apa yang merupakan kelebihan kita. Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak. Kita diberikan peluang yang sama oleh Tuhan. Kalau kita merasa stagnan di satu bidang, cobalah untuk kemudian melakukan evaluasi, apakah selama ini kita sudah berada di jalur yang benar? Kalau memang stagnan, tidak ada salahnya kita memutar haluan, entah itu terkait dengan karier, hobby dan lainnya.
3.         Kita memiliki kekuatan yang tidak terbatas dalam memilih ikiran-pikiran kita. Salah satu hasil penelitian menyimpulkan bahwa rata-rata manusia hanya menggunakan 5 % dari kemampuan otak dan pikiran yang sesungguhnya. Begitu masih luasnya potensi otak untuk terus dikembangkan dan otak memiliki kebebasan untuk mengembangkan pikiran-pikiran yang positif tersebut. Dengan kekuasaan pikiran, kita akan mampu mencipta, membangun dan memperkuat impian apapun dalam kehidupan kita.
4.         Milikilah prosperity consciousness, yakni suatu kesadaran bahwa kekayaan di bumi ini begitu melimpah. Banyak sumber-sumber untuk semua orang apabila kita mampu membuka pikiran dan sikap kita terhadap peluang dan kesempatan yang tersebar di mana-mana. Kemiskinan hanya terletak dalam pikiran kita, karena kita merasakan keterbatasan dalam pikiran tersebut.
5.         Hidup itu menyenangkan dan memberikan hasil. Kita harus mampu mengkondisikan otak bawah sadar kita bahwa hidup itu menyenangkan ibarat sebuah perjalanan atau bahkan petualangan yang sesungguhnya sangat menyenangkan. Nikmati proses-proses perjalanan tersebut. Ketika hambatan dan masalah datang, jangan anggap hal tersebut sebagai sebuah kesulitan justru ia adalah tantangan yang ketika pada saatnya kita mampu melewati, maka kita akan semakin punya pengalaman dalam menyikapi masalah tersebut. Setiap tantangan baru yang datang, akan memberikan imbalan yang lebih besar, petualangan yang lebih kaya dan lebih menyenangkan untuk dijalani. Kehidupan ini penuh, kaya dan memberikan imbalan.
6.         Lakukan perubahan terhadap diri kita. Kesuksesan dan citra diri tidak akan datang dengan sendirinya, melainkan kita harus mengupayakannya dengan sungguh-sungguh. Seperti dikatakan oleh Tuhan, bahwa Dia tidak akan mengubah nasib manusia kalau manusia itu sendiri yang tidak melakukan perubahan. Oleh karena itu, mulailah pada saat ini di titik ini untuk terus melakukan perubahan dan pembenahan pada diri kita, sehingga orang akan memberikan padangan positif terhadap diri kita dan kita pun senang karena bisa memaksimalkan segala potensi yang ada.

    Delapan Cara Mengembangkan Ketrampilan

    on Tuesday, November 16, 2010



    Untuk menambah kompetensi, merupakan suatu keharusan bagi kita untuk menambah satu ketrampilan di bidang apapun sesuai dengan hobi atau bidang kerja kita. Misalnya saja, kita bekerja sebagai pemandu wisata, maka kemampuan untuk menguasai bahasa asing sangat dibutuhkan. Untuk itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan hal tersebut, yaitu :
    1.        Berlatihlah sedikit demi sedikit. Mempelajari suatu ketrampilan khusus seperti menguasi bahasa asing memerlukan latihan rutin sedikit demi sedikit dan sering. Berlatihlah selama sekitar 20 – 30 menit setiap hari akan jauh lebih efektif daripada Anda berlatih cukup lama (4 jam sehari), tetapi hanya dilakukan seminggu sekali. Kembangkan terus kebiasaan ini, lama-lama pasti Anda akan melangkah dengan lebih ringan.
    2.              Revisi dan tes diri Anda secara teratur.  Usahakanlah selalu ada keseimbangan antara berlatih dan merevisi kembali atas apa yang sudah Anda lakukan. Ibaratnya, saat melakukan sesuatu asahlah dan evaluasilah sehingga menjadi lebih tajam.
    3.              Dengarkan ucapan atau lihat dalam cermin gerakan Anda. Jika memungkinkan, carilah ruangan yang sunyi dan lengkapi dengan cermin besar. Anda dapat berbicara dengan keras dan melakukan gerakan-gerakan tanpa perlu khawatir mengganggu orang lain. Anda dapat mendengar suara Anda atau melihat gerakan Anda. Buatlah latihan tersebut mudah dan menyenangkan.
    4.              Gunakan afirmasi dan kalimat positif. Katakan pada diri Anda, bahwa Anda bisa. Ucapkan afirmasi Anda sesering mungkin sehingga hal tersebut tertanam dalam alam bawah pikiran Anda.
    5.              Gunakan visualisasi dalam kondisi Alpha untuk membayangkan Anda menguasi ketrampilan tersebut. Visulaisasikan bahwa hasil akhir yang Anda inginkan itu terjadi. Bayangkan betapa bahagianya Anda saat momen seperti itu datang. Gunakan jangkar emosi untuk meningkatkan getaran perasaan senang yang mengalir di tubuh Anda. Buatlah visualisasi pada saat Anda relaksasi atau sedang berada dalam kondisi alpha-bayangkan diri Anda sedang berbicara bahasa asing tersebut. Tanamkan visual ini ke dalam pikiran bawah sadar Anda sesering mungkin.
    6.              Cari kesempatan berlatih dengan orang yang lebih mahir. Hubungi orang yang menurut Anda sudah menjadi master dalam bidangnya. Jalin pertemanan dan mintalah masukan dari dia. Jika perlu, ikutlah kursus.
    7.              Kembangkan terus minat Anda dengan antusiasme tinggi. Kembangkan terus minat pribadi dibarengi dengan antusiasme yang tinggi. Semangat dan antusias senantiasa membawa kita berada dalam mood dan tidak akan pernah merasa bosan.
    8.              Jangan terlalu kerasa pada diri Anda sendiri. Belajar suatu ketrampilan adalah suatu proses bertahap dan bisa dilakukan seumur hidup. Jangan berharap Anda segera menguasai ketrampilan tersebut dalam waktu simgkat. Teruslah berlatih sampai suatu saat secara tidak sadar Anda telah mahir dalam bahasa asing tersebut.
    Jangan pernah putus asa. Coba dan coba terus.

    Siapakah Saya?

    on Sunday, November 14, 2010


    Pernahkah Anda ditanya dalam suatu wawancara kerja “Tolong jelaskan sebenarnya diri Anda itu siapa dan sebutkan apa kekurangan dan kelebihan Anda”.  Apakah Anda akan menjawab dengan cepat dan jelas, ataukah Anda kaget dan bingung karena memang selama ini Anda jarang bertanya kepada diri sendiri atas pertanyaan tersebut. Tidak usah khawatir, hal itu manusiawi. Hanya saja tanpa adanya pertanyaan dalam wawancara tersebut, seharusnya kita jauh-jauh hari sudah menanyakan pada diri kita sendiri karena ini merupakan modal dasar untuk mengembangkan diri kita ke depan.
    John Kehoe dalam sebuah bukunya “Mind Power”  mengatakan bahwa Anda adalah apa yang Anda pikirkan tentang diri Anda. 


    Confident thoughts create a confident person.
    Weak thoughts create a weak person.
    Strong thoughts create a strong person.
    Thought with a purpose create a person with purpose.
    Visionary thoughts create a visinary person.
    Thoughts of helplessness create a helpness person.
    Thought of self-pity create a person filled with self pity.
    Enthusiastic thoughts create an enthusiastic person.
    Loving thought create a loving person.
    Succesfull thoughts create a succsfull person.



    You are unique. Nobody else has your thoughts, your ideas, or your ways of doing things. Most people think they are ordinary but dont’t you make that mistake.
    Jelaslah bahwa apa yang disampaikan John Kehoe di atas tidak menilai diri kita dari bentuk fisik kita seperti warna kulit, warna rambut, tinggi badan, jenis kelamin dan lain sebagainya melainkan dari pikiran dan sikap mental kita. Bila mana citra diri hanya diukur dari bentuk fisik, maka kita tidak banyak memilki pilihan karena semua sudah diberikan oleh Tuhan. Dengan kata lain, John Kehoe mengatakan bahwa kita dapat menjadi apa saja yang kita inginkan.
    Citra diri ini memang tidak muncul begitu saja dalam waktu sekejap, namun merupakan proses lama yang telah terbentuk dalam kurun waktu beberapa tahun. Namun jangan berkecil hati, ketika kita tahu kekuarangan kita, maka manfaatkan kelebihan kita agar menjadi kompetitif advantage untuk menutup kelemahan yang ada. Dengan begitu, ini erat kaitannya dengan konsep diri dan personal branding. Tidak mudah memang, asal kita mau dan berusaha pasti bisa. Oleh karenanya, kembangkan terus dan anlisis hal-hal positif dari kita kalau perlu mintalah masukan dari sahabat terdekat. Hiasi diri dengan sikap mental positif. 

    Cara Membangun Personal Branding

    on Saturday, November 13, 2010


    Ketika kita menyebut nama Microsoft, pikiran kita segera terfokus pada sosok Bill Gates? Bahkan ketika telah ia mengundurkan diri, masih banyak orang yang menganggapnya sebagai CEO dari Microsoft. Meskipun posisinya telah lama diserahkan kepada Steve Ballmer, sahabatnya baiknya sejak di Harvard University.
    Demikian pula, ketika ia mendengar Virgin Group, orang mengidentifikasi dengan nama Richard Branson sebagai salah satu pengusaha nyentrik yang sukses dengan berbagai inovasi dan terobosan dalam bisnis.

    Dalam bidang tarik suarapun juga sama. 
    Bila Anda melihat penyanyi yang melakukan gerakan berjalan, Anda segera akan ingat sosok bintang pop Amerika Michael Jackson. Demikian pula, ketika berbicara lagu cross country, orang akan berpaling ke Sania Twain  dariKanada. Jika kita berbicara penyanyi reggae dengan rambut gimbal, orang akan langsung berpikir tentang sosok Bob Marley, penyanyi reggae dari Jamaica, Amerika Latin yang masih terjual albumnya meskipun dia telah pergi serta Michael Jackson.

    Dari nama-nama terkenal, tampaknya mereka memiliki personal branding yang kuat. 
    Memiliki kemampuan untuk membangun citra diri, tidak hanya dikenal tapi terukir dalam kenangan orang.

    Peter Montoya, pakar personal branding yang telah menulis sebuah buku tentang itu, termasuk The Brand Called You, mengatakan bahwa personal branding sebagai cara bagaimana Anda merasakan sesuatu. 
    Untuk itu, kata Montoya, Anda harus memiliki keterampilan promosi, bakat dan sejenisnya, yang akan menghasilkan persepsi positif. Seiring dengan itu, Anda juga harus menghindari perhatian yang akan menciptakan reaksi negatif.

    Oleh karena itu, kondisi saat ini, branding tidak hanya terkait dengan perusahaan tertentu atau merek tapi sudah sampai ke tingkat individu. 
    Lihatlah apa yang dilakukan  calon presiden dan anggota legislatif. Mereka bersaing untuk menciptakan personal branding diri untuk dipilih.

    Untuk itu, langkah yang harus Anda lakukan adalah melakukan positioning. 
    Ambil keuntungan dari kekuatan Anda yang akan dikembangkan sehingga ketika orang menyebut sesuatu, maka mereka akan segera ingat nama Anda. Membuat marketing mix  Anda sebagai perusahaan pemasaran produk, karena dalam kasus ini adalah produk Anda sendiri. Good luck.

    Empat Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri

    on Thursday, November 4, 2010


    Keberhasilan dan kegagalan merupakan sekeping mata uang yang datang silih berganti. Bila keberhasilan yang kita dapatkan, maka kita merasa bahagia  dan menjadi lebih bersemangat dalam mengarungi hidup ini. Begitu kegagalan yang terjadi, maka kita merasa minder dan tidak memiliki kepercayaan diri lagi. Selain faktor internal bagaimana kita memandang sebuah kegagalan sebagai bagian dari konsep diri kita, faktor eksternal kadang juga memiliki pengaruh, misalnya komentar atau pendapat dari rekan kerja, pasangan ataupun orang lain yang kadang tidak kita kenal.
    Dalam kondisi kesulitan tersebut, secara psikis kita menjadi kurang percaya diri. Untuk  itu, berusahalah untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri. Kita sudah terbiasa bersahabat dengan orang lain. Tentunya tidak sulit untuk melakukannya. Ketika kita mampu menjadi sahabat bagi diri kita sendiri, maka layaknya seorang sahabat kita akan legawa menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sahabat kita itu. Selain itu, ketika kesulitan tersebut muncul, tetaplah punya sikap positif dan keyakinan, bahwa apa yang terjadi hanya sementara. Keyakinan dan kepercayaan diri merupakan sumber keberhasilan. Tanamkan dalam diri, kalau orang lain mampu, kenapa saya tidak? Seperti dikatakan dalam kitab suci, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Kita fokuskan pada cara mencari jalan keluarnya.
    Ada 4 cara menurut Stepahie Barrat-Godefroy untuk meningkatkan kepercayaan diri, antara lain :
    1.      Buat Daftar Keberhasilan. Kita tuliskan bidang apa saja yang kita kuasai dan ingin kita kembangkan termasuk dalam hal ini hobby. Setiap orang adalah pribadi unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ingat-ingat lagi keberhasilan yang sudah kita torehkan di masa lalu, analisis faktor apa yang menjadi penyebab keberhasilan dan lakukan langkah-langkah perbaikan sebagai corrective action.
    2.      Bersikap Optimis. Banyak di antara kita pada saat mengalami kegagalan malah fokus dan meratapi kegagalan itu sendiri kadang disertai dengan mencari kambing hitamnya. Pada akhirnya, kegagalan tersebut menguasai seluruh kehidupan sampai-sampai di kala tidur pun masih terbawa dalam mimpi.
    3.      Ubah Sikap Kita Terhadap Kegagalan. Kegagalan hanyalah sebuah harga yang harus dibayar dan batu loncatan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. Namun perlu kita ingat pula, jangan sampai kita terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kalau seperti itu, berarti kita tidak mampu belajar atas kegagalan sebelumnya.
    4.      Tidak Lagi Melihat Kegagalan Di Manapun. Bagaimana mungkin seseorang akan melihat kegagalan kalau kegagalan itu sebenarnya tidak ada. Hal ini  bukan berarti kita menutup mata atas fakta yang terjadi, melainkan mengubah mind set terhadap kegagalan dengan memandang bahwa kegagalan adalah kejadian yang sudah berlalu. Sementara dedikasi atas apa yang kita lakukan adalah untuk saat ini dan masa depan.


        Pergulatan Hidup

        on Sunday, October 31, 2010

        Kehidupan telah mengantarkan manusia untuk berkreasi dengan dunianya। Kesenangan pergulatan dalam kemanusiaan menjadikan sang waktu sekedar teman. Padahal, sang waktu tidaklah sekedar teman, melainkan sahabat, mentor dan maha guru kehidupan ini.Bukankah Tuhan pun bersumpah atas nama sang waktu! Hidup telah dimulai tatkala manusia hadir ke dunia dengan tangisan, rintihan, jeritan dan kebahagiaan yang telah dinantikan manusia lain. Pergulatan sang bayi yang beriringan dengan waktu menjadikannya mendapatkan julukan anak-anak. Bermain dan belajar adalah tugas yang dibebankan kepadanya. Sang waktu terus mengantarkan anak-anak ini ke dalam dunia remaja yang mulai mencari jati dirinya dengan menunjukkan eksistensinya untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lainnya. Kesenangan adalah temannya, percintaan adalah petualangannya, kesedihan adalah musuhnya. Tibalah sang waktu mengubah remaja ini menjadi dewasa yang siap menerima realitas kehidupan. Kehidupannya dimulai saat ada tugas yang memang harus diselkesaikan bersama orang lain sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai kholifah di muka bumi. Mencari penghidupan dan teman pendamping setia merupakan bagian utama di dalamnya, selain memiliki tugas kemasyarakatan. Sang waktu kembali mengisyaratkan kepada manusia ini untuk segera bersiap-siap menyelesaikan tugasnya. Seperti kata Paulo Culho dalam Al Kemisnya, tanda zaman telah diberikan dengan datangnya sang keriput, rambut beruban, dan mata rabun. Saatnya kata bijak untuk lebih dekat dengan sang pencipta menjadi perhatian utama. Namun, dalam proses yang begini linear yang sifatnya rutin ini, menjadi tantangan terbesar bagi manusia untuk mengupayakan kreasi dan aktualisasi dari dirinya. Tuhan memberikan ruang dan waktu untuk berkreasi. Namun, kemalasanlah yang menjadi pilihan. Akhirnya, hidup hanya sekedar hidup bahkan harus meminta kehidupan kepada orang lain demi sebuah kehidupan. Hidup memang terlalu sederhana untuk disederhanakan.

        Empat Cara Mengatasi Ketidakberdayaan

        on Saturday, October 30, 2010



        Ketika diri kita mengalami ketidakberdayaan, betapa menyakitkannya. Namun sebagian besar di antara kita hanya bisa termangu dan menunggu tak berbuat apapun untuk bisa keluar dari rasa ketidakberdayaan tersebut. Tidakkah kita sayang terhadap waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Allah atas hidup kita di dunia ini yang sangat singkat. Bahkan dalam terminologi orang Jawa diibaratkan bahwa hidup seperti halnya mampir ngomber (mampir minum ). Bagaimana kita bisa menyikapi dan keluar dari kondisi yang seperti ini.
        Seperti  halnya yang dialami Agus, seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di Semarang. Hari-harinya terasa menjemukan. Betapa tidak? Dia merasa bekerja pada  bagian yang bukan merupakan bidang dan keinginannya. Pekerjaan yang dilakukan seakan bagian dari rutinitas, karena yang dikerjakan ya itu-itu saja, tidak ada value added yang diperoleh. Ditambah kondisi lingkungan kerjanya yang tidak mengakomodasi kreativias dan inovasi. Agus merasa memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan beban perkerjaan yang dihadapinya saat ini. Ketika mau berangkat ke kantor pagi hari, perasaan malas sudah mulai menghinggapi. Ketika sampai di kantor, melihat berkas yang menumpuk rasa malasnya makin bertambah. Dia hanya menunggu, kapan ya sore akan datang sehingga bisa lekas pulang. Belum lagi berpikir, mau keluar dari tempat kerja yang sekarang, susah juga karena khawatir betapa susahnya mencari pekerjaan untuk saat ini.
        Apa yang dialami Agus cukup manusiawi. Namun sebagai manusia yang beragama tentu kita harus bisa mengatasinya. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Loh, memangnya apa hubungan ketidakberdayaan dengan bersyukur? Nah, dalam hal ini kita perlu bersyukur karena kita masih punya pekerjaan yang bisa digunakan untuk menafkahi keluarga, apapun pekerjaaannya yang penting halal. Coba bayangkan banyak saudara-saudara kita yang menganggur, pagi-pagi sekali saudara-saudara kita yang jadi pemulung sudah berusaha mencari rezeki di kala kita masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur kita. Atau bahkan pak tani yang segera bersiap meluncur ke sawah sebelum matahari terbit. Di samping itu, dengan bersyukur Insya Allah rezeki makin bertambah. Seperti yang difirmankan oleh Allah,”Apabila kamu bersyukur maka Kami akan tambahkan nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih.
        Hal kedua yang bisa kita lakukan yakni mencari tahu penyebab ketidakberdayaan tersebut. Apakah memang pekerjaan rutin yang membosankan? Apakah lingkungan dan budaya kerja di kantor yang kurang kondusif? Dalam situasi ini yang dapat kita lakukan hanya merubah faktor internal diri kita. Sementara faktor eksternal adalah faktor x yang menjadi variabel uncontrol. Cobalah, kita nikmati pekerjaan kita dengan cara melakukan proses yang berbeda. tak perlu takut dengan rekan kerja kita hanya karena cara kita berbeda. Yang penting outputnya bagus dan proses tetap dilakukan secara benar. Pagi hari ketika sampai di kantor, kita buat ceklist terkait dengan target apa yang akan kita selesaikan pada hari tersebut. Sore hari ketika mau pulang, evaluasi berapa persen target yang tercapai. Buat daftar pendingan untuk hari berikutnya. Jangan lupa untuk menambah satu pengetahuan baru terkait dengan pekerjaan kita.
        Ketiga, kembangkan terus hobi kita sehingga kita tidak hanya terfokus pada pekerjaan. Syukur-syukur hobi bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan secara ekonomis. Kalau pun tidak, ya gak masalah. Keempat, jangan segan-segan untuk membuat keputusan besar dalam hidup setelah melakukan analisis yang cukup mendalam. Kalau memang di tempat kerja sudah tidak ada harapan untuk lebih baik, segera pertimbangkan untuk keluar dari tempat tersebut. Namun sebelumnya kita harus sudah siap dengan langkah berikutnya yang akan ditempuh. Misalnya ada tawaran dari tenpat kerja lain atau bahkan memtuskan untuk mandiri menjadi wirausaha. Bukan pilihan yang salah, asalkan sudah kita putuskan dengan matang. Dengan demikian, maka waktu kita tidak akan habis hanya untuk menggerutu dan menyesalai nasib. Seperti yang dikatakan oleh Bunda Theresa, jangan hanya menggerutui kegelapan, tapi cobalah untuk menyalakan lilin. Mudah-mudahan bermanfaat.

        Tentukan Naskah Kehidupan Kita

        on Thursday, October 14, 2010


        Beranjak dari Hadits Nabi Muhammad SAW “ kerjakanlah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya dan kerjakanlah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok” maka kita memandang kehidupan ini dengan lebih sempurna. Banyak di antara kita yang memberikan makna bahwa dunia dan akhirat adalah dua kehidupan yang berbeda, atau bahkan malah tidak percaya dengan kehidupan akhirat. Di titik inilah kita harus berani mengejawantahkan bahwa dunia dan akhirat saling terkait.

        Perjalanan kehidupan manusia dimulai dengan ditiupkannya roh ke dalam bayi yang berada dalam kandungan. Pada saat bayi dilahirkan, sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, bahwa setiap anak yang lahir dalam keadaan suci. Dalam teori psikologi dikatakan sebagai tabularasa, yakni kertas putih yang siap untuk diberi gambar dan warna oleh orang tua. Namun perlu diingat, bahwa warna dan gambar tersebut hanya sebagai dasar-dasar pembentukan kejiwaan di awal perkembangan kehidupan yang tentunya menjadi bekal buat dirinya dalam meniti kehidupannya kelak. Berikutnya, si anak itu sendirilah yang akan membentuk wujud dan masa depannya.
        Segala sesuatu yang menyangkut diri kita sudah ditentukan oleh Allah sebagaimana yang termaktub dalam lauh mahfuz. Qodha dan Qadar merupakan hak prerogatif dari Allah. Namun dalam kaitan ini, Allah masih memberikan keleluasaan untuk melakukan ikhtiar terhadap hidup kita. Kesalahan kita, kadang kita memaknai hidup seperti air mengalir apa adanya karena semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa. Kepasrahan seperti inilah yang menjadikan kita lemah. Kepasrahan haruslah mencul setelah segala daya upaya kita lakukan (tawakkal).
        Di sisi lain, kadang kita menyerahkan kehidupan kita kepada orang lain. Mengapa demikian? Tak lain karena kita tidak punya skenario dan naskah atas kehidupan atas ini. Akhirnya, orang lainlah yang membuatkan naskah untuk kita. Kita sekedar menjadi pemerannya. Benar dalam konteks luas bahwa kita menjalankan peran yang telah diberikan oleh Allah. Namun demikian, perlu diingat sebagaimana disampaikan di awal bahwa di sana masih ada ruang untuk berkreasi yang merupakan bagian dari ikhtiar. Kondisi makin parah tatkala kita sendiri merasa tidak dibuatkan naskah oleh orang lain, namun senyatanya kita hidup dalam bayang-bayang dan genggamannya. Seakan tidak ada ruang gerak. Masalah ini bisa muncul karena kita tidak tahu dan tidak mau tahu.
        Perlunya naskah kehidupan dapat dipandang dalam beberapa hal. Pertama, naskah kehidupan menunjukkan tujuan yang jelas atas kehidupan, baik dunia maupun akhirat. Tanpa tujuan yang jelas, ibarat sebuah perjalanan kita tidak tahu arah yang dituju dan akhirnya kita hanya sampai ke titik yang tidak jelas atau bahkan malah hanya berada di titik semula diam tak bergerak. Selain itu, dengan tujuan yang jelas, kita akan fokus. Menyambung analogi perjalanan tadi, maka ketika arah yang dituju sudah jelas maka ketika ada titik-titik persimpangan jalan, kita sudah bisa menentukan jalan mana yang harus dipilih dan dilalui. Kedua, naskah kehidupan yang jelas, akan membantu kita untuk membuat strategi yang jelas pula untuk mencapainya. Strategi untuk tiap orang berbeda walaupun tujuan sama. Dalam hal inilah, keunikan tiap individu turut berperan menyesuaikan dengan kemampuan dan sumber daya yang ada. Ketiga, naskah kehidupan menunjukkan eksistensi atas kemanusiaan kita sehingga orang lain tidak seenaknya “mendikte dan membuatkan naskah”. Keempat, naskah kehidupan sebagai tanda syukur kepada Allah agar kehidupan kita menjadi lebih bermakna sebagai khalifah di muka bumi ini. Minimal makna buat diri dan keluarga kita. Harapannya tentu bisa bermanfaat kepada  masyarakat, sehingga tidak menjadi sampah  masyarakat.
        Untuk itulah, selagi umur masih muda, bersyukurlah bila sudah memiliki naskah atas kehidupan kita. Bila belum, saatnya kita buat naskah tersebut dengan semangat untuk hidup dunia dan akhirat. Semangat ini sebagai penjabaran bahwa kita harus berusaha lebih baik seakan kita akan hidup selamanya, namun di sisi lain kita ingat dengan akhirat karena kita tidak tahu sampai kapan kita ada di muka bumi ini. Untuk itulah, modal yang bisa kita lakukan dengan menanam benih-benih kebajikan. Bahkan andai besok kita tahu besok kiamat akan datang, kita masih tetap diminta untuk menanam benih. Masa lalu yang kelam bukanlah halangan untuk kita tenggelam, namun kita jadikan semangat untuk lebih memperbaiki diri dengan mengambil hikmah.