Peluang Usaha

Menentukan Nilai Ekonomis Bididaya Sapi

on Tuesday, November 9, 2010

Budidaya sapi memberikan beberapa keuntungan ekonomis yang tentunya mampu memberikan semangat bagi kita untuk menggeluti bidang ini. Dengan mengetahui nilai ekonomisnya, maka kita bisa menentukan target nilai mana yang akan kita manfaatkan. Apakah akan mengambil manfaat dari daging ataukah susu, misalnya. Atau bahkan kita bisa melakukan kombinasi nilai ekonomis tersebut secara terpadu sehingga mampu memberikan keuntungan secara optimal. Nah, itu adalah pilihan.
Secara umum dapat dikatakan nilai ekonomis budi daya sapi tersebut di antaranya adalah :
1.         Ternak potong. Nilai ekonomis ini merupakan yang paling utama karena merupakan muara dari semua pemeliharaan sapi, entah jenis sapi penghasil susu, pembajak sawah  ataukah sapi potong itu sendiri. Namun demikian, mutu daging yang paling bagus tetap berasal dari sapi yang memang khusus dipelihara untuk digemukkan karena karakteristik yang dimilikinya, misalnya pertumbuhannya yang lebih cepat. Sapi-sapi inilah yang dijadikan sapi bakalan, yang dilakukan budidaya secara intensif selama beberapa waktu sehingga pada akhirnya akan memberikan pertumbuhan dan bobot yang optimal. Beberapa jenis sapi yang memang cocok untuk dijadikan bakalan antara lain : Peranakan Ongole (PO), Sapi Bali, sapi Madura, Simetal dan Brahman. Untuk melakukan usaha budidaya penggemukan sapi, ada yang dilakukan secara koloni oleh kelompok ternak sapi, seperti yang dilakukan oleh kelompok ternak sapi “Andhini Rahayu di Kampung Betakan Sumberrahayu Moyudan Sleman Yogyakarta” dengan anggota sebanyak 30 peternak. Hal ini terutama cocok untuk peternak yang memiliki kemampuan permodalan secara terbatas maupun bagi pemula. Sementara itu bila akumulasi modal cukup besar, bisa melakukan budidaya dengan menyewa lahan yang lebih luas. Saat ini rata-rata harga per kilogram daging sapi dijual Rp60.000,00  di pasar. Bahkan dalam waktu-waktu tertentu seperti mendekati harai raya Idul Fitri bisa mencapai Rp80.000,00 per kg.
2.         Penghasil Susu. Sapi jenis FH (Frisien Holstein) merupakan salah satu jenis sapi penghasil susu dengan kapasitas produksi per hari mencapai 20 liter. Umumnya daerah yang cocok untuk budidaya sapi ini di kawasan yang berhawa lebih sejuk, misalnya di lereng pegunungan seperti  Pakem, Turi, Cangkringan (Sleman) dan Boyolali maupun Pengalengan di Bandung. Harga per liter susu sapi ini mencapai Rp2.000,00 – Rp4.000,00.
3.         Tenaga Kerja. Umumnya zaman dulu sapi-sapi diberdayakan untuk menjadi tenaga kerja membajak sawah maupun menarik pedati. Walaupun demikian, saat ini masih terdapat beberapa daerah yang memang belum bersentuhan dengan teknologi memanfaatkan sapi untuk dipekerjakan. Menurut catatan, memang sawah yang dibajak dengan sapi atau kerbau memiliki kualitas tanah yang lebih baik daripada traktor misalnya, namun membutuhkan waktu penyelesaian yang lebih lama dan cenderung kurang praktis. Di Madura, bahkan terdapat lomba karapan sapi, untuk tetap melestarikan fungsi sapi sebagai pembajak sawah.
4.         Penghasil pupuk kandang. Dalam setahun, rata-rata sapi mampu menghasilkan kotoran sebanyak 7,5 ton. Bila diolah menjadi kompos mampu menghasilkan kurang lebih 5 ton pupuk siap pakai. Harga per kg kompos di pasaran bisa mencapai Rp500,00 – Rp1.000,00. Daerah-daerah seperti Wonosobo dan Temanggung di Jawa Tengah merupakan daerah yang paling banyak membutuhkan pupuk kompos ini guna mendukung lahan sayuran di kawasan Dieng. Namun, belum banyak peternak yang memanfaatkan pupuk kandang ini secara ekonomis karena sebagian besar kotoran sapi ini hanya dibiarkan teronggok. Permintaan pupuk kompos cenderung meningkat seiring dengan tuntutan masyarakat untuk lebih menggalakkkan tanaman organik. Seekor sapi  bisa menghasilkan 2,07 m³ biogas perhari atau setara dengan 0,85 kilogram elpiji atau 1,28 liter minyak tanah. Bisa dibayangkan manfaat energi tersebut, yang tidak hanya dimanfaatkan untuk penerangan listrik namun bisa juga digunakan untuk memasak tanpa ada bau kotoran sapi.
5.         Penentu status sosial. Di beberapa daerah, seperti Nusa Tenggara dan Madura serta sebagian kecil kawasan pedesaan di Jawa kepemilikan jumlah sapi menentukan status sosial yang bersangkutan mengingat harga sapi yang relatif tinggi.
6.         Penghasil bahan baku industri. Kulit sapi merupakan salah satu bahan untuk industri tas, sepatu, ikat pinggang dan jaket. Selain itu, kulit sapi juga dimanfaatkan untuk industri krecek. Harga kulit sapi basah bisa mencapai Rp18.000,00 per kg.
Bila bisa diupayakan secara terintegrasi niscaya budidaya sapi mampu memberikan keuntungan optimal, sehingga peternak tidak lagi diimajinasikan sebagai kelompok marjinal walaupun sampai dengan saat ini memang pemerintah belum sepenuhnya berpihak kepada peternak. 


        Salah satu peternakan sapi yang dikelola secara intensif


Cara Berkebun Pada Lahan Terbatas

on Sunday, November 7, 2010



Saat ini sebagian besar sayuran yang kita konsumsi masih mengandalkan pupuk buatan atau yang sering dikenal dengan pupuk kimia, walupun sudah ada yang menggunakan pupuk organik. Hanya saja secara harga, sayuran yang berasal dari pupuk organik relatif lebih mahal. Sementara itu, tuntutan terhadap konsumsi sayuran organik semakin meningkat karena memang dilihat dari segi kesehatan lebih baik. Bagaimana kita mencoba menyikapi hal tersebut?
Mungkin sempat sekilas terbayang dalam benak kita, mengapa kita tidak mencoba menanam sendiri saja sayur-sayuran tersebut? Yah, lagi-lagi kita dihadapkan pada cara ketidaktahuan, lahan yang sempit atau rasa kemalasan. Jangan khawatir, seperti kata orang bijak, asal ada kemauan Insya Allah bisa.
Ada beberapa keuntungan ketika kita mampu mengusahakan sayuran dari lahan sendiri. Pertama, kita bisa melakukan kontrol atas tanaman itu sendiri. Mengapa ini penting? Ya, kalau kita beli di pasar contohnya kangkung kadang kita langsung menjatuhkan pilihan pada kangkung yang hijau subur dan segar. Padahal kesegaran kangkung tersebut bisa berasal dari pupuk kimia. Kedua, secara ekonomis juga jauh lebih murah. Ingat, beberapa waktu yang lalu harga cabe di pasar sempat membumbung tinggi. Dengan demikian, kalau diusahakan sendiri, maka harga dianggap konstan. Ketiga, dengan berkebun bisa memberikan rasa segar dan fresh. Selain mendukung gerakan penghijauan, sekaligus membuat udara lebih segar. Coba saja pagi hari sebelum matahari terbit, kita tengok kebun yang hijau serasa kesegaran langsung merasuk ke dalam seluruh badan. Keempat, berkebun merupakan seni tersendiri karena bisa saja berbeda untuk satu orang dengan yang lainnya. Kelima, dengan berkebun juga berarti memiliki lemari es alami yakni dengan cara memetiknya sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan saat itu. Keenam, dengan berkebun berarti memanfaatkan lahan dan waktu yang luang.
Pertanyaan berikutnya, bagaimana mau berkebun, lha wong lahannya saja sangat terbatas. Tidak masalah, coba cek apakah masih ada lahan tersisa di belakang atau samping rumah? Kalau masih entah seberapa besarnya, berarti masih ada peluang. Nah bagaimana kalau sudah tidak ada sama sekali? Masih ada peluang juga. Kita bisa kok berkebun dengan cara menanam sayuran tersebut di pot.
Seperti yang sudah disinggung di awal, lahan terbatas ini dibagi dalam dua kelompok. Pertama lahan terbatas dengan media tanah. Untuk itu, yang perlu dilakukan gemburkan dulu tanah tersebut dengan cangkul atapun dengan sabit atau pecok. Setelah itu campurkan tanah yang sudah digemburkan tersebut dengan kompos ataupun humus yang dapat dibeli di pasar. Kalau di Semarang banyak tempatnya, salah satunya di Pasar Mbulu Jalan Sugiopranoto. Sebungkus kompos sapi atau kambing dijual Rp2.000,00. Setelah lahan siap, benih siap ditaburkan. Misalnya kangkung, kacang panjang, sawi dan lain-lain. Jangan lupa, saat tanaman tumbuh setinggi kurang lebih 10 cm, perlu dilakukan penyiangan terhadap gulmanya sekaligus diberikan pemupukan kembali dengan kompos. Dalam waktu yang tidak terlalu lama (tergantung jenis tanaman) siap dipanen. Kalau tanaman seperti kangkung, bisa dipanen sampai beberapa kali, tetapi kalau sejenis sawi maka hanya sekali panen setelah itu harus menanam kembali dari awal.
Dengan media pot, hampir sama caranya. Hanya saja, lahan yang dipakai memang lebih terbatas lagi. Masukkan kompos dan humus ke dalam pot, lalu tanamlah sayuran tersebut, misalnya cabe. Perlakuan berikutnya juga sama, nantinya lakukan pemupukan kembali dengan kompos dan juga penyiangan terhadap gulma. Oh iya, untuk bibit tanaman bisa dibeli di toko-toko pertanian. Selamat mencoba dan selamat berkebun.

Empat Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri

on Thursday, November 4, 2010


Keberhasilan dan kegagalan merupakan sekeping mata uang yang datang silih berganti. Bila keberhasilan yang kita dapatkan, maka kita merasa bahagia  dan menjadi lebih bersemangat dalam mengarungi hidup ini. Begitu kegagalan yang terjadi, maka kita merasa minder dan tidak memiliki kepercayaan diri lagi. Selain faktor internal bagaimana kita memandang sebuah kegagalan sebagai bagian dari konsep diri kita, faktor eksternal kadang juga memiliki pengaruh, misalnya komentar atau pendapat dari rekan kerja, pasangan ataupun orang lain yang kadang tidak kita kenal.
Dalam kondisi kesulitan tersebut, secara psikis kita menjadi kurang percaya diri. Untuk  itu, berusahalah untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri. Kita sudah terbiasa bersahabat dengan orang lain. Tentunya tidak sulit untuk melakukannya. Ketika kita mampu menjadi sahabat bagi diri kita sendiri, maka layaknya seorang sahabat kita akan legawa menerima kelebihan dan kekurangan yang dimiliki sahabat kita itu. Selain itu, ketika kesulitan tersebut muncul, tetaplah punya sikap positif dan keyakinan, bahwa apa yang terjadi hanya sementara. Keyakinan dan kepercayaan diri merupakan sumber keberhasilan. Tanamkan dalam diri, kalau orang lain mampu, kenapa saya tidak? Seperti dikatakan dalam kitab suci, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Kita fokuskan pada cara mencari jalan keluarnya.
Ada 4 cara menurut Stepahie Barrat-Godefroy untuk meningkatkan kepercayaan diri, antara lain :
1.      Buat Daftar Keberhasilan. Kita tuliskan bidang apa saja yang kita kuasai dan ingin kita kembangkan termasuk dalam hal ini hobby. Setiap orang adalah pribadi unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ingat-ingat lagi keberhasilan yang sudah kita torehkan di masa lalu, analisis faktor apa yang menjadi penyebab keberhasilan dan lakukan langkah-langkah perbaikan sebagai corrective action.
2.      Bersikap Optimis. Banyak di antara kita pada saat mengalami kegagalan malah fokus dan meratapi kegagalan itu sendiri kadang disertai dengan mencari kambing hitamnya. Pada akhirnya, kegagalan tersebut menguasai seluruh kehidupan sampai-sampai di kala tidur pun masih terbawa dalam mimpi.
3.      Ubah Sikap Kita Terhadap Kegagalan. Kegagalan hanyalah sebuah harga yang harus dibayar dan batu loncatan untuk meraih keberhasilan yang lebih besar. Namun perlu kita ingat pula, jangan sampai kita terperosok pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Kalau seperti itu, berarti kita tidak mampu belajar atas kegagalan sebelumnya.
4.      Tidak Lagi Melihat Kegagalan Di Manapun. Bagaimana mungkin seseorang akan melihat kegagalan kalau kegagalan itu sebenarnya tidak ada. Hal ini  bukan berarti kita menutup mata atas fakta yang terjadi, melainkan mengubah mind set terhadap kegagalan dengan memandang bahwa kegagalan adalah kejadian yang sudah berlalu. Sementara dedikasi atas apa yang kita lakukan adalah untuk saat ini dan masa depan.


      Cara Menghitung Kekayaan Bersih

      on Wednesday, November 3, 2010


      Kita sudah bekerja bertahun-tahun dengan membanting tulang menguras keringat kadang terselip juga cucuran air mata. Bekerja memang untuk menghidupi diri, keluarga dan sebagian kita sisihkan untuk menyucikan harta kita. Namun yang harus disadari pula, bahwa pendapatan yang kita peroleh dari bekerja, sebagian harus diinvestasikan kembali dalam berbagai instrumen sesuai dengan profil resiko kita.
      Nah, kadangkala kita terlena dengan asumsi asalkan kita sudah menabung dan punya berbagai instrumen investasi, kita menganggap sudah cukup. Padahal untuk menentukan kategori tersebut dibutuhkan indikator sebagai parameter secara kuantitatif. Sebagai contoh, Mas Karyo yang saat ini berusia 35 tahun bekerja sebagai salah satu karyawan sebuah multifinance di Jakarta dengan pendapatan tahunan sebesar Rp70 juta. Saat ini nilai aset atau kekayaan bersih yang dimiliki sebesar Rp150 juta. Mas Karyo merasa sudah cukup bagus rasio efisiensi atas hasil pekerjaannya selama ini. Benarkah demikian?
      Salah satu formula yang bisa digunakan dapat diambil dari buku karya Thomas J. Stanley dan William D. Danko  dengan judul  “The Millionare Next Door”  menyebutkan  “A persons’s expected wealth ougth to be 10% of your age multiplied by the annual household income”. Formula ini memberikan gambaran sebaiknya berapa aset yang kita miliki di suatu masa dengan penghasilan kita saat ini. Kembali kepada Mas Karyo tadi, dalam usia 35 tahun dan pendapatan tahunan saat ini sebesar Rp150 juta, maka sebaiknya Mas Karyo sudah bisa mengumpulkan asset sebesar : 35/10 x Rp70 juta = Rp245 juta. Di dalam buku tersebut dikatakan, bila dalam kenyataannya Mas Karyo memiliki aset Rp250 juta, maka Mas Karyo termasuk golongan PAW atau Prodigious Accumulator of Wealth. Sebaliknya, bila Mas Karyo ternyata hanya memiliki kekayaan bersih Rp150 juta, maka dia termasuk UAW atau Under-Accumulator of Wealth. Oleh karena itu, Mas Karyo harus melakukan evaluasi di titik manakah terjadi in efisiensi selama ini. Aset tersebut memperhitungkan aset yang likuid seperti tabungan dan deposito, instrumen investasi lain seperti saham dan reksadana maupun aset berujud lainnya seperti motor dengan memperhitungkan juga nilai bukunya. Bagaimana dengan kita? Selamat berhitung.

      Ngungak Kiprahe Mudha-mudhi AMIB (Sebuah Episode Pemberdayaan Diri dan Masyarakat)

      on Monday, November 1, 2010

      (Meneruskan tulisan yang dimuat di majalah Bahasa Jawa Djaka Lodang No. 3 tahun 2006 tanggal 17 Juni 2006. Tulisan ini sebagai upaya untuk memotivasi rekan-rekan anak muda di Betakan khususnya, agar terus berkiprah untuk bisa terus mengaktualisasikan diri dan menjadikan koperasi "Makosipa" dan "AMIB" lebih maju lagi).

      Wektune bubar isya, grimis wengi tiba kepyur-kepyur, nalika Djaka Lodang (DL) miwiti sanjan menyang papan kegiatane mudah-mudhi AMIB ing dhusun: Betakan, Sumber Rahayu, Moyudan, Sleman, Jogjakarta. Miturut Mas Eka utawa lengkape Eka Budi Kumiawan, AMIB-mono cekakan saka angkatan Muda Islam Betakan sing sejatine madeg wiwit taun 1978. Minangka wadhah kegiyatan mudha-mudhi Islam dhusun Betakan, kepengurusan AMIB punjere ana Masjid AN-Nuur kanthi migunakake serambi masjid. Nanging selaras karo kemajuane jaman lan saya mekare kegiyatan AMIB rasane saya repot yen punjere kegiyatan mung ana serambi masjid. Anggota AMIB sing cacahe ana 75 mudha-mudhi kiprah kegiyatane wis ora kuwawa maneh yen mung ditampung ing sapanggonan. Kanyatan iki sing tundhone nyurung mutakmirin Ian masyarakat maringi bantuan marang AMIB supaya kiprah kegiyatane saya mekar Ian maju. "krana kawontenan menika Pak, mila saking muktamiirin lan masyarakat lajeng ada-ada damel papan mirunggan wujud bangunan enggal saeler rnasjid menika," mengkono pratelane Mas Eka sing diampingi dening-Mas Dika utawa lengkape Dika Rusdiyanto sing wektu iki minangka Ketua AMIB.

      Sing gawe gumun, senajan mutakmirin Masjid AN-Nuur mung mligi dhusun Betakan nanging kuwawa nyembadani mbangun papan kegiyatan arupa bangunan permanen jembare 36 m2, sing kedadeyan saka 3 ruang; yaiku: papan pertemuan, ruang administrasi/ruang kerja, lan papan wudhu sarta urinoir. Bangunan dicet werna ijo enom iki katon rapi lan resik, kabeh jrambahe wus dike¬ramik ingga nambahi gemrining. Babagan fasilitas ruangan lan peralatan kerja cukup becik. Ana meja kerja, rak, lan saperangkat komputer. Nalika DL didhawuhi nak-yinake kiprahe mudha mudhi AMIB ing wengi Minggu be¬ngi iku ngrasa gumun. Jalaran, ora mung mudha-mudhi sing ngebaki papan kegiyatan, nanging dalasan para sepuh lan putra-putri cilik nyengkuyung kegiyatan iki. Ana sing teka arisan, ana kang melu kegiyatan simpan pinjam, ana kang mbayar listrik, ana kang mbutuhake voucher, ana kang nyambangi perpustakaan, ana kang pengin main pingpong, nanging ana uga kang pengin jajan angkringan.

      Miturut Bapak Drs. Ngadino, minangka Ketua Takmir Masjid An-Nuur; sing uga rawuh manggihi DL ing wengi iku akehe kegiyatan AMIB ora uwal saka "kerja keras-e para pengurus sing racak para mahasiswa. Mas Eka sing lulusan Fakultas Ekonomi UGM lan Nas Dika sing wektu iki mahasiswa Jurusan Ekonomii UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) mesthi wae klebu duweni semangat kuwat. Minangka katalisator (penggerak) akeh rancangan sing wis diecakake kang¬go nyurung kemajuane AMIB, klebu koperasi simpan-pinjam sing omzete wis nyandhak Rp 42 yuta.

      Gagasan ngedegake koperasi simpan pinjam iki merga meruhi ka¬nyatan ing dhusun Betakan meh ora ana nom-noman nganggur. Sing ora dadi PNS utawa pegawai swasta pa¬dha nggegulang usaha ing babagan perikanan gurami. Diajab krana grengsenge generasi enom ing babagan perikanan dadi mitra becik tumrap kemajuane koperasi AMIB ing babagan "permodalan". Kerja sama iki pranyata nguwohake kanyatan la¬mun dhusun Betakan tundhone dadi salah sijine sentra mbudidaya iwak gurami ing laladan Sleman iring kulon.

      Kasile koperasi simpan pinjam pranyata melu nyurung kegiyatan liya kayata arisan, penarikan pajeg listrik, dadi Iuwih maju. Kang gawe bombong, kepengurusan ing babagan ke-giyatan iki kabeh dicekel para mudha¬mudhi AMIB. Dene para kasepuhan sing kagungan tanggung jawab nga¬wasi Ian maringi pitedah lamun ana bab-bab sing perlu disaruwe. Miturut Mas Eka, Koperasi AMIB pancen munjerake kawigaten marang wira¬usaha cilik.

      Mulane sakehe kegiyatan kang magepokan karo perikanan, peternakan, pertanian, bakul warungan, oleh kawigaten saka koperasi. Kanggo nyurung majune para wirausaha cilik, malah ora mung bantuan ing babagan permodalan, nanging uga ing babagan bantuan tenaga teknis klebu pelatihan. Nalika grengsenge wirausaha cilik saya mundhak mundhak ingga mbutuhake sumadhiyane modhal Iuwih akeh, mula pihak koperasi banjur ngajak tembayatan karo para perantau sing makarya ing Jakarta, Batam, Singapura, Malaysia, Jepang, Korea, Ian Timur Tengah, ka¬nggo mikuwati modhal. Carane, para perantau mau disuwuni legane kanggo dadi anggota Koperasi AMIB Ian sabanjure kersa nyelengi srana sukarela. Simpanan sukarela iki tun¬dhone bisa dimanpangatake kanggo menehi bantuan marang usaha-usaha kecil sing kekurangan modhal.

      Malah miturut Mas Dika, wujud concentne koperasi marang wirausaha kecil bisa ditonton anane angkringan sing diwenehi papan ing sangarepe Masjid AN-Nuur. Angkringan iki dikrenah srana modhal 50% koperasi 50% masyarakat, dene sing ngecakake (ngedol) masyarakat. Senajan angkringan iki mung bukak seminggu sepisan (Minggu bengi) nanging cukup laris krana panganan kang disedhiyakake werna-werna kaya gorengan Ian camilan. Nalika DL nyembranani marang Mas Eka yen mung ketungkul ing babagan ekonomi temah babagan akhlaq malah ora kegarap, bujangan umur 26 taun iki mung gumuyu.

      Pratelane: Wah, babagan akhlaq pancen wigatos Pak, nanging babagan ekonomi umat ugi kedah dipungatosaken. Liripun, sedaya supados mlampah sesarengan.

      Pratelane Mas Eka uga dibenerake dening Pak Ngadino, sing banjur paring pangandikan, yen senajan AMIB menehi kawigaten gedhe marang babagan ekonomi ora ateges banjur ora menehi kawigaten marang babagan pembangunan akhlaq. Minangka bukti, bangunan kang dadi punjere kegiyatan AMIB uga dimanpangatake kanggo kegiyatan madrasah ing wanci awan. Kanthi mengkono, ateges AMIB tetep ora uwal saka jatidhirine minangka wadhah kegiyatan mudha-mudhi Muslim.

      Kanggo narik kawigatene "debitur" miturut Mas Eka Ian Mas Dika, pihak koperasi asring nganakake undhian kanthi pathokan saben Rp 50.000 oleh 1 poin. Para pemenang undhian ana kang antuk kipas angin, jam dhindhing, payung, temah muwuhi grengsenge para "penabung" kanggo nyelengi ing Koperasi AMIB. Marang petani, Mas Dika nambahi, asring uga koperasi menehi bantuan ing babagan bibit tetanen kaya kang durung suwe iki srana nyumbang bibit pisang kapok.

      AMIB sing mula bukane saka kegiyatan Pemuda Muhammadiyah Betakan uga wiwit mula bukane nyurung wujude mudha-mudhi sing cerdas Ian mencintai ilmu. Kanggo iku mula kanthi semangat kang makantar-kan¬tar mbudidaya amrih saya lengkape buku Ian wacan liya ing Perpustakaan AMIB. Kanggo ngimbangi kekarep¬ane anggota perpustakaan sing sebageyan gedhe haus wacan, mula pihak pengurus asring ngadani tembayatan karo pihak liya kaya sekolahan, perpustakaan daerah, Ian para penerbit. Cara iki menehi keuntungan marang anggota kanggo luwih akeh maca buku tanpa kudu lunga menyang perpustakaan gedhe sing ana ing kutha kabupaten utawa Jogjakarta. Dene ing babagan konsumsi warta, AMIB nyedhiyani koran sing dipasang ing papan koran ingga bisa diwaca dening anggota perpustaka¬an utawa masarakat dhusun Betakan. Nalikane udane wiwit trenceng Ian jarum jam nuduhake wektu 21.30, DL nyuwun pamit sinambi ndherek memuji muga-muga kegiyatan kang becik iki pikantuk ridha saka Gusti Allah. Amin. (Suhindriyo/DL)

      Sabagean masarakat kang nyengkuyung kegiatan AMIB kanthi dadi anggota Koperasi


      Pengurus AMIB lenggah bebarengan karo takmir masjid An- Nur, Drs. Ngadino (kiwa), Eka Budi Kurniawan, SE (Tengah), Ian Dika Rusdiyanto (tengen). (Foto: Suh/DL)
      Para mudhi AMIB sing uga ora kalah kiprahe karo pengurus liyane.
      (Foto: Suh/DL)




      *Terima kasih kepada Pak Suhindriyo dan Majalah Djaka Lodang atas supportnya.

      Pergulatan Hidup

      on Sunday, October 31, 2010

      Kehidupan telah mengantarkan manusia untuk berkreasi dengan dunianya। Kesenangan pergulatan dalam kemanusiaan menjadikan sang waktu sekedar teman. Padahal, sang waktu tidaklah sekedar teman, melainkan sahabat, mentor dan maha guru kehidupan ini.Bukankah Tuhan pun bersumpah atas nama sang waktu! Hidup telah dimulai tatkala manusia hadir ke dunia dengan tangisan, rintihan, jeritan dan kebahagiaan yang telah dinantikan manusia lain. Pergulatan sang bayi yang beriringan dengan waktu menjadikannya mendapatkan julukan anak-anak. Bermain dan belajar adalah tugas yang dibebankan kepadanya. Sang waktu terus mengantarkan anak-anak ini ke dalam dunia remaja yang mulai mencari jati dirinya dengan menunjukkan eksistensinya untuk mendapatkan pengakuan dari pihak lainnya. Kesenangan adalah temannya, percintaan adalah petualangannya, kesedihan adalah musuhnya. Tibalah sang waktu mengubah remaja ini menjadi dewasa yang siap menerima realitas kehidupan. Kehidupannya dimulai saat ada tugas yang memang harus diselkesaikan bersama orang lain sebagai bagian dari tanggung jawabnya sebagai kholifah di muka bumi. Mencari penghidupan dan teman pendamping setia merupakan bagian utama di dalamnya, selain memiliki tugas kemasyarakatan. Sang waktu kembali mengisyaratkan kepada manusia ini untuk segera bersiap-siap menyelesaikan tugasnya. Seperti kata Paulo Culho dalam Al Kemisnya, tanda zaman telah diberikan dengan datangnya sang keriput, rambut beruban, dan mata rabun. Saatnya kata bijak untuk lebih dekat dengan sang pencipta menjadi perhatian utama. Namun, dalam proses yang begini linear yang sifatnya rutin ini, menjadi tantangan terbesar bagi manusia untuk mengupayakan kreasi dan aktualisasi dari dirinya. Tuhan memberikan ruang dan waktu untuk berkreasi. Namun, kemalasanlah yang menjadi pilihan. Akhirnya, hidup hanya sekedar hidup bahkan harus meminta kehidupan kepada orang lain demi sebuah kehidupan. Hidup memang terlalu sederhana untuk disederhanakan.

      Empat Cara Mengatasi Ketidakberdayaan

      on Saturday, October 30, 2010



      Ketika diri kita mengalami ketidakberdayaan, betapa menyakitkannya. Namun sebagian besar di antara kita hanya bisa termangu dan menunggu tak berbuat apapun untuk bisa keluar dari rasa ketidakberdayaan tersebut. Tidakkah kita sayang terhadap waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Allah atas hidup kita di dunia ini yang sangat singkat. Bahkan dalam terminologi orang Jawa diibaratkan bahwa hidup seperti halnya mampir ngomber (mampir minum ). Bagaimana kita bisa menyikapi dan keluar dari kondisi yang seperti ini.
      Seperti  halnya yang dialami Agus, seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di Semarang. Hari-harinya terasa menjemukan. Betapa tidak? Dia merasa bekerja pada  bagian yang bukan merupakan bidang dan keinginannya. Pekerjaan yang dilakukan seakan bagian dari rutinitas, karena yang dikerjakan ya itu-itu saja, tidak ada value added yang diperoleh. Ditambah kondisi lingkungan kerjanya yang tidak mengakomodasi kreativias dan inovasi. Agus merasa memiliki kemampuan yang lebih dibandingkan dengan beban perkerjaan yang dihadapinya saat ini. Ketika mau berangkat ke kantor pagi hari, perasaan malas sudah mulai menghinggapi. Ketika sampai di kantor, melihat berkas yang menumpuk rasa malasnya makin bertambah. Dia hanya menunggu, kapan ya sore akan datang sehingga bisa lekas pulang. Belum lagi berpikir, mau keluar dari tempat kerja yang sekarang, susah juga karena khawatir betapa susahnya mencari pekerjaan untuk saat ini.
      Apa yang dialami Agus cukup manusiawi. Namun sebagai manusia yang beragama tentu kita harus bisa mengatasinya. Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan. Pertama, kita harus bersyukur kepada Allah SWT. Loh, memangnya apa hubungan ketidakberdayaan dengan bersyukur? Nah, dalam hal ini kita perlu bersyukur karena kita masih punya pekerjaan yang bisa digunakan untuk menafkahi keluarga, apapun pekerjaaannya yang penting halal. Coba bayangkan banyak saudara-saudara kita yang menganggur, pagi-pagi sekali saudara-saudara kita yang jadi pemulung sudah berusaha mencari rezeki di kala kita masih belum sepenuhnya tersadar dari tidur kita. Atau bahkan pak tani yang segera bersiap meluncur ke sawah sebelum matahari terbit. Di samping itu, dengan bersyukur Insya Allah rezeki makin bertambah. Seperti yang difirmankan oleh Allah,”Apabila kamu bersyukur maka Kami akan tambahkan nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih.
      Hal kedua yang bisa kita lakukan yakni mencari tahu penyebab ketidakberdayaan tersebut. Apakah memang pekerjaan rutin yang membosankan? Apakah lingkungan dan budaya kerja di kantor yang kurang kondusif? Dalam situasi ini yang dapat kita lakukan hanya merubah faktor internal diri kita. Sementara faktor eksternal adalah faktor x yang menjadi variabel uncontrol. Cobalah, kita nikmati pekerjaan kita dengan cara melakukan proses yang berbeda. tak perlu takut dengan rekan kerja kita hanya karena cara kita berbeda. Yang penting outputnya bagus dan proses tetap dilakukan secara benar. Pagi hari ketika sampai di kantor, kita buat ceklist terkait dengan target apa yang akan kita selesaikan pada hari tersebut. Sore hari ketika mau pulang, evaluasi berapa persen target yang tercapai. Buat daftar pendingan untuk hari berikutnya. Jangan lupa untuk menambah satu pengetahuan baru terkait dengan pekerjaan kita.
      Ketiga, kembangkan terus hobi kita sehingga kita tidak hanya terfokus pada pekerjaan. Syukur-syukur hobi bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan secara ekonomis. Kalau pun tidak, ya gak masalah. Keempat, jangan segan-segan untuk membuat keputusan besar dalam hidup setelah melakukan analisis yang cukup mendalam. Kalau memang di tempat kerja sudah tidak ada harapan untuk lebih baik, segera pertimbangkan untuk keluar dari tempat tersebut. Namun sebelumnya kita harus sudah siap dengan langkah berikutnya yang akan ditempuh. Misalnya ada tawaran dari tenpat kerja lain atau bahkan memtuskan untuk mandiri menjadi wirausaha. Bukan pilihan yang salah, asalkan sudah kita putuskan dengan matang. Dengan demikian, maka waktu kita tidak akan habis hanya untuk menggerutu dan menyesalai nasib. Seperti yang dikatakan oleh Bunda Theresa, jangan hanya menggerutui kegelapan, tapi cobalah untuk menyalakan lilin. Mudah-mudahan bermanfaat.